Skip to main content

Posts

PEMENANG YANG TAK BAHAGIA

di bawah sinar mentari yang sama setiap harinya
kau menangis namun tak ada yang melihat
mungkin karena tanpa air mata
kau terluka namun tak ada yang  tahu
mungkin karena tiada darah yang menetes
ataukah sekitar terlau silau
hingga semua orang tak mengerti yang terjadi

kau ceritakan semua yang kau alami
namun aku sungguh tak bisa merasakannya
kaupun bertanya kepadaku

tahukah kau rasanya
sudah ingin kalah 
namun semesta berikan kekuatan
hingga tak ada pilihan selain jadi pemenang

di bawah bintang yang tak pernah benar-benar terang
kau menangis tapi tak ada yang melihat
mungkin karena tak ada air mata
kau terluka namun tak ada yang tahu
mungkin karena tiada darah yang menetes
ataukah malam terlalu kelam
hingga semua orang tak mengerti yang terjadi
Recent posts

BELENGGU

Bapak Peri

Guys.. seperti apa Bapakmu? Tampan dan bisa dengan bangganya kamu pamerkan ke teman-teman sekolah kamu setiapkali ada acara pengambilan raport plus kaya raya dan bisa mengabulkan keinginanmu terbang menjelajah dunia dengan jet pribadi setiap liburan tiba, sekaligus menguasai ilmu beladiri seperti 7 manusia harimau dan membuat teman-teman hidung belangmu lari tunggang langgang? Atau malah pendiam dan sekali marah, raja rimba pun kalah?
“Ah! Siapa bilang Bapakku galak? Masih galakkan Ibuku. Bapak itu kalau Ibu marah, biasanya lebih suka menghindar dengan duduk di teras sambil merokok.” “Bapakku sih mirip komentator bola. Segala apa aja di rumah pasti dikomentarin sama dia. Semua serba salah deh.” “Bapak baiiik banget. Aku minta apa aja pasti diturutin. Nggak pernah ngelarang dan nggak pernah bilang enggak. Enaklah pokoknya kalo Bapak. Nggak kayak  Ibu!” “Hmm.. Bapak yah? Bapak yang sekarang jadi suami Ibu? Atau Bapak yang udah cerai sama Ibu dan udah nikah lagi? Yang mana nih?” “Saya itu bin…

Setengah Memenuhi

Aku menggoyang-goyangkan kaki, mengerut-ngerutkan kening, memainkan alis naik turun dan mengerucut-ngerucutkan bibirku, sambil membisu. Di sebelahku dia menyenggol-nyenggolkan bahunya ke bahuku hingga bahukupun bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri karenanya. Namanya Rudi. Dia tampan sekali, mungkin karena keturunan Italy. "So?" Rudi menengok padaku memasang wajah ramah dengan senyum jenaka sekaligus mempesona. Aku membelalakkan mata, mengerucutkan bibir lagi dan membisu lagi tetapi bahuku yang naik turun seolah bertanya, "Apa?" "So..kenapa kamu berhenti menulis? Sebagai pembaca setia novelmu, aku kecewa." "Karena Danny sudah meninggal, Rudi. Jadi tidak ada lagi yang bisa kutulis di sana. Novel-novel itu ada karena Danny dan sekarang dia lenyap dari bumi ini. Kamu tau bagaimana rasanya berduka kehilangan Danny? Kekasih, inspirasi dan setengah jiwaku?"
Danny adalah malaikat. Ia menyamar menjadi manusia. Menjadi cinta pertamaku. Menjadi kekasih yang pali…

Meja Lain

Terdampar di sebuah kedai kopi pada hari Jum'at malam adalah cerita biasa bagi kaum pekerja urban sepertiku. Dan malam ini seperti seminggu lalu, sebulan lalu dan entah sudah berapa kali Jum'at malam aku rutin berada di kedai kopi ini di jam-jam pulang kantor. Aku tidak sendiri, maksudku di kedai ini aku tidak sendiri. Ada banyak pegawai kantoran lain yang memiliki kebiasaan sama denganku, berkumpul di kedai ini. Sekedar menyesap secangkir kopi ditemani camilan gosip-gosip terhangat tentang rekan sejawat.
Semakin malam suasana kedai kopi yang ruangannya tidak terlalu luas ini semakin hangat. Mayoritas pengunjung tempat ini berusia 25tahun ke atas. Banyak yang datang sendiri, ada yang berdua dan terkadang ada pula yang bergerombol. Pemilik kedai kopi ini adalah seorang pria tampan berusia 45tahun. Aku memanggilnya Mas Bowo. Perawakannya tinggi dan bentuk tubuh Mas Bowo seperti pria-pria yang rajin nge-gym pada umumnya. Sesuai dengan namanya, Mas Bowo memiliki wajah yang sangat n…