Saturday, 26 February 2011

Nyambel

dapat gambar dari sini


Nyambel.. artinya membuat sambal, mengulek cabai, meramu sambal yang sedap dan membuat orang ketagihan. Semua orang bisa saja nyambel. Tapi enak dan tidaknya, pasti kembali pada selera. Ada yang suka sambal pedas, asin, manis, asam dan atau bahkan sambal yang tidak pedas. Nah Lho? Sambal kok tidak pedas? Jangan protes dong, ini kan soal selera.

Nyambel.. saya heran kalau kemudian hanya karena nyambel adalah kerepotan dari rangkaian masak-memasak kemudian seorang lelaki bertanya pada perempuan idamannya, "Kamu bisa nyambel ngga? Soalnya kan aku suka banget makan sambel. Kalo kamu bisa nyambel, pas kita nikah nanti aku jamin aku jadi suami yang betah di rumah."
Heeeeeeyyyy!!! Hello! Hello! Hello! Coba simak kalimat tersebut khususnya di bagian 
"..Kalo kamu bisa nyambel, pas kita nikah nanti aku jamin aku jadi suami yang betah di rumah." 
Tidakkah terasa sesuatu yang janggal atau hanya perasaan saya saja ya? Hmmm... menurut prasangka buruk saya yang terlalu pencuriga, bagian tersebut mengandung makna ganda, bahwa jika dipanjangkan maka kalimatnya akan berbunyi seperti ini:
  1. "Kalo kamu bisa nyambel, pas kita nikah nanti aku jamin aku jadi suami yang betah di rumah. Dan aku tau bangeeeettt sayang kalo kamu nggak bisa nyambel yang enak, jadi yaaaaa jangan salahin aku yaaaa kalo nanti aku lebih betah di rumah perempuan lain setelah kita nikah."
  2. "Kalo kamu bisa nyambel, pas kita nikah nanti aku jamin aku jadi suami yang betah di rumah. Jadi kamu musti rajin nyambel kalo nggak mau aku selingkuh."
Nyambel.. saya juga heran kalau seorang calon ibu mertua yang notabene ibu rumah tangga sejati yang masakannya dipuja-puji setinggi langit oleh sang anak yang kebetulan adalah calon suami dari si "perempuan beruntung" - bicara,  
"Nduk.. Masmu itu pualllliiiinnngggg seneng sama yang namanya sambel. Apalagi buatan Ibu. Kamu kalo mau disayang sama dia, harus pinter ngrayu dia pake sambeeeeelllll. Laki-laki itu bakal makin besar cintanya kalo dimanjain perutnya."
Nah! Lagi-lagi saya mencurigai ada maksud di balik ucapan calon ibu mertua ini, diantaranya adalaaaahhh...
 "Ibu itu ndak suka kalo anak Ibu nantinya lebih sayang ke kamu daripada ke Ibu. Jadiiii... Ibu ndak akan ngasih tau kamu resep sambel rahasia buatan Ibu yang bikin Masmu itu ndak bisa lepas dari Ibu."
Mustinya, yang begini ini bisa dibantah dengan kalimat,
"Bu.. saya ndak bisa bikin sambel aja si Mas udah klepek-klepek sama saya, apalagi pake jago bikin sambel. Lagian ya, Bu... di jaman sekarang ini, nonsense banget gitu loooohhhh kalo Si Mas bakal betah di rumah cuma gara-gara saya pinter sambel, sementara saya nggak pinter merawat dan menjaga diri. Nah kalo saya pinter nyambel tapi muka saya kaya cobek sambel, memangnya Si Mas tetep dijamin nggak lirik kanan kiri, Bu?"
Uuuupppsss!!! Tapi sangat tidak disarankan mengucapkan kalimat itu pada Calon Ibu Mertua Tersayang yaaaaa...? Bisa-bisa nanti didepak jadi calon mantu. Cukup manggut-manggut, tersenyum dan mengamini sajalah perkataan Si Ibu. Hehehe...

Nyambel.. saya bingung. Semalam saya melihat seorang laki-laki yang jago nyambel dan mahir memasak tapi tetap jantan bin macho. Nah! Kalau sudah punya pasangan yang jago nyambel begitu, apa iya sebagai perempuan kita masih harus jago nyambel juga dan repot memutar otak bagaimana caranya membuat sambal yang menyenangkan perut suami dan dan menentramkan hatinya, sementara urusan rumah tangga lainnya malah diabaikan?

Nyambel.. iya saya tahu, perempuan itu selayaknya bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan khas perempuan seperti mahir menangani urusan dapur, pandai mengelola keuangan rumah tangga, pintar mengurus anak dan mampu jadi wanita penghibur bagi suami. Yes, i do understand dan para orang tua pun telah menasehati dan mengajarkan pada kami anak-anak perempuan. Tapi apa iya lantas semua itu menjadi baku kaku dan sesuatu yang wajib dilakukan? Kalau seorang calon istri diharuskan bisa nyambel, berarti seorang calon suami harus bisa mengerjakan hal-hal semacam menjadi montir kendaraan bermotor, membetulkan ledeng, menambal genteng bocor, dan mahir ilmu beladiri agar bisa melindungi perempuannya. Tapi kenyataannya sekarangpun banyak laki-laki yang justru lebih jago menjelaskan bagaimana merawat kulit dan memilih parfum daripada mempraktekkan caranya membetulkan air conditioner
Lagipula, kalau memang sudah saling cinta, apakah semua syarat-syarat tersebut lantas menjadi penting? Bukankah cinta itu punya kekuatan maha dahsyat yang membuat seorang pemalas berubah jadi pekerja keras, yang membuat seorang yang kasar berubah jadi penyayang, yang memotivasi orang untuk belajar menyukai dan melakukan hal-hal yang tadinya dibenci, demi kebaikan bersama? Bukankah cinta membuat kita bisa bertoleransi? Bahkan cinta bisa membuat seorang perempuan jadi jago nyambel tanpa perlu dipaksa-paksa.

Nyambel.. cuma sebuah contoh betapa terkadang hal-hal yang meskipun perlu tapi tidak prinsip seringkali dibesar-besarkan dan menghambat jalannya sesuatu. Pedeeeeesssssss kaaaaaaannnnn jadinyaaaaaa...???

Kalau ini.. bonus bagi Anda yang sudah membaca tulisan saya:

Sambal Bajak Belimbing Wuluh

Bahan
  • 10 buah cabai merah besar
  • 5 buah cabai merah keriting
  • 3 buah cabai rawit merah
  • 2 sendok teh terasi bakar
  • 1 sendok teh garam (sesuai selera)
  • 2 sendok makan gula merah sisir (sesuai selera)
  • 2 buah tomat, diiris kasar
  • 2 lembar daun salam
  • 1 batang serai, dimemarkan
  • 2 cm lengkuas, dimemarkan
  • 2 sendok makan air
  • 1 sendok makan air asam jawa
  • 6 buah belimbing wuluh, dipotong 1 cm (sesuai selera)
  • 5 sendok makan minyak untuk menumis
 Cara Membuat
  1. Ulek cabai merah besar, cabai merah keriting, cabai rawit merah, dan terasi.
  2. Tumis cabai, garam, gula merah, tomat, daun salam, serai, dan lengkuas di atas api kecil sampai matang.
  3. Masukkan air, air asam jawa, dan belimbing wuluh. Aduk rata.
  4. Sajikan sambal dengan nasi atau lauk apapun sesuai selera.


S E L A M A T        N Y A M B E L        ^_^

1 comment:

  1. sambel adalah salah satu produk kuliner indonesia, terutama jawa. dan sesungguhnya setiap yang dilakukan bukan hanya apa yang di lihat, tetapi lebih dalam ada sesuatu yang terkandung didalamnya.......sambel adalah hasilnya, sedang nyambel adalah prosesnya, yang sesungguhnya bukan sambelnya, tetapi nyambelnya yang perlu dicermati. kita semua tau bahwa bahan2 sambel bermacam diramu jadi satu adonan pun bukan sekedar itu. sebab banyak orang dengan adonan yang sama, rasa bisa berbeda. yang kemudian ketekunan, keikhlasan....,itu faktor yang amat penting.......tak bisa dibayangkan bila sedang meramu sambel dengan hati yang gundah, mutungi, ndugali.....rasanya...? puuuuuuuuuuuuuach............!

    semalam aku ketemu dengan seorang yang paling ahli sambal di kota tegal (warung lesehan), aku pesen sambel yang pedes pol, kemudian penjual menjawab "njengkin", tapi apa yang terjadi, aku tak merasakan pedes, apalagi njengking, tidak sama sekali.......entah apa yang ada di pedagang itu........

    perempuan bisa nyambel enak, bisa saja hakekatnya bukan apa yang disampaikan, tetapi dalam proses itu terjadi keikhlasan untuk menyajikan sesuatu yang terbaik untuk orang yang disayangi. prosesnya dengan telaten melumat(ngulek) cabai dllnya.

    ReplyDelete