Monday, 19 April 2010

Secangkir Teh Manis


Selamat pagi! Sudah sarapan? Atau sekedar mengisi perut Anda dengan secangkir teh, kopi, beberapa potong camilan ringan penambah energi dan mungkin sebatang rokok? (eeuuuuwww... seems not really nice for me... ^_^). Berhubung pagi ini di sekitar saya cuma ada teh celup, air panas dan gula, ditambah lagi saya belum terlalu berhasrat untuk mengunyah-ngunyah sesuatu,akhirnya beberapa saat yang lalu saya memutuskan menyeduh secangkir teh saja.

Dimulai dengan menyiapkan cangkir dan alasnya dulu. Cangkirnya putih polos. Tidak ada hiasan berupa gambar atau ukiran apapun, begitu juga dengan alasnya. Cangkir seperti ini pasti sering Anda temui di hotel-hotel atau pada jamuan-jamuan acara formal. But I like it! Lebih sederhana, elegan, bisa menyesuaikan diri di mana saja dan cocok untuk disajikan pada siapa saja.

Mmmm... selanjutnya memasukkan sebungkus gula instan. Ini gula instan biasa sih, bukan gula diet. Gulanya berbeda dengan gula pasir yang biasa saya konsumsi. Di rumah ibu saya, bongkahan-bongkahan gulanya lebih besar, tidak sehalus yang ini. Warnanya juga lebih keruh. Tapi... saya jamin rasanya jauh lebih manis daripada gula instan ini. Ya sudahlah tak masalah juga, yang penting ada gula dan tidak ada semut. Hehehe!

Daaaan... ini dia Sang Bintang utama. Teh celup. Tidak perlu sebut merk ya? Nanti yang lain jadi iri. Walaupun bukan maksud hati membeda-bedakan merk yang satu dengan lainnya. Sungguh deh saya memilih merk ini kali ini karena memang cuma ada merk ini di sini. Ups! Jadi panjang ya? Padahal kalian kan nggak tahu juga merk apa yang bakal saya minum pagi ini. Hihi! Sebelum menaruhnya dalam cangkir, saya suka sekali mengendus-endus wangi tehnya dari luar bungkus. Setelah itu senyum-senyum sendiri menikmati aromanya.

Nah! Selanjutnya, waktunya menuangkan air panas. Lagi-lagi teringat kata ibu saya. Katanya bahwa secangkir teh akan lebih enak rasanya bila diseduh dengan air yang baru saja matang, bukan dengan air panas yang sudah lama disimpan dalam termos. Beberapa orang juga pernah mengatakannya. Seperti itu pula yang pernah saya baca di beberapa artikel. Dan... entah sugesti atau bukan, rasanya sih memang beda ketika suatu hari saya pernah mencoba membandingkannya. Tapi... pagi ini yang ada hanya air panas dari dispenser. Sikat sajalah haaaay....

Ini dia sentuhan terakhir ketika saya akan menikmati secangkir teh manis yaitu mengaduk gulanya. Dalam mengaduk gula baik untuk diminum sendiri atau disajikan pada tamu, saya memilih untuk tidak mengaduk semuanya. Sebenarnya hanya untuk mencegah rasanya menjadi terlalu manis. Saya juga selalu mengusahakan mengaduknya menggunakan sendok kecil. Sebisa mungkin tidak menggunakan sendok makan atau sendok besar maupun sendok yang terbuat dari plastik (sendok bebek), keculai kepepet.

Oh iya! Setelah diaduk, biasanya di permukaan atas gelas akan ada buih-buih akibat seduhan air panas dan adukan yang kita lakukan. Berdasarkan ajaran ibu saya tercinta, buih-buih yang dalam bahasa Tegal biasa disebut untuk ini, sangat mengganggu pemandangan. Mengurangi nilai estetika dari secangkir teh manis meski tidak mengubah rasanya. Itu sebabnya saya selalu mengambil buih-buih itu menggunakan sendok dan membuangnya. Rupanya ini juga dilakukan oleh beberapa orang kenalan saya. Jadi... mungkin ini memang sudah diajarkan sejak jaman nenek moyang kita ya?

Begitulah cara saya menikmati secangkir teh manis. Bagaimana dengan Anda? Saya yakin kita semua punya cara-cara sendiri yang terlihat biasa tapi sebenarnya luar biasa mempengaruhi kita dalam menikmati rasa secangkir teh manis.
Selamat nge-teh.....

No comments:

Post a Comment