Monday, 15 March 2010

Rasa Saya

Di mana sih sulitnya membuat tumis kangkung, apalagi bagi Anda yang mungkin sudah mahir memasak. Ini adalah sejentik cerita tentang saya, Ibu saya dan tumis kangkung. Mungkin sepele dan sama sekali tidak penting. Di rumah saya, tumis kangkung adalah masakan yang frekuensi disajikannya lumayan sering. Selain mudah, memadukan tumis kangkung dengan lauk-pauk yang lain pun bukanlah hal yang sulit. Cara membuatnya pun praktis dan tidak memerlukan waktu lama. Saya sukaaaa sekali tumis kangkung buatan ibu saya (saya memang suka semua masakan hasil olahan ibu saya), rasanya tumis kangkung buatan ibu saya mempunyai cita rasa khas dibanding tumis kangkung lain yang pernah saya makan . Terkadang jika saya memang sedang mood, saya juga sering memasak tumis kangkung. Pertama kali mencoba membuatnya, rasa tumis kangkung buatan saya memang tidak masuk kategori tidak enak, walaupun sangat jauh juga dibandingkan dengan hasil masakan ibu saya, hehehe. Namun lama-kelamaan rasa tumis kangkung ala saya, semakin membaik. Ini bukan menurut pendapat pribadi saya saja, karena ibu saya bilang masakan saya sudah layak makan. Tapi saya heran, mengapa rasa masakan saya tidak pernah bisa sama dengan yang dibuat ibu saya. Padahal takaran bumbunya sama persis, cara dan urutan memasak bahannya pun sama. Waktu saya tanyakan pada ibu saya, ibu bilang itu karena saya mempunyai rasa saya sendiri, begitupun ibu saya dan seluruh juru masak di dunia ini. Betapapun saya mencoba meniru dan menjadi seperti ibu saya, suatu saat tetap akan keluar juga "rasa saya" itu. Ibu saya juga bilang saya tidak perlu berusaha menyamai ibu saya, karena masakan adalah hasil olahan rasa yang begitu personal dan juga akan menghasilkan rasa yang begitu pribadi, individualis dan egois. Itulah sebabnya ketika kita sedang marah, sedih ataupun gembira, rasa masakan kita akan berbeda. Tetap saja masih ada tanda tanya di dalam hati saya, mengapa para chef atau juru masak bisa membuat masakan dengan cita rasa yang sama dari hari ke hari, padahal saya yakin sebagai manusia biasa, mereka pun seperti saya yang tidak selalu tersenyum ataupun menangis setiap hari. Sambil tersenyum ibu saya bilang itu karena mereka pandai mengolah rasa yang ada dalam diri mereka sepandai mereka mengolah bahan makanan yang ada di meja dapur tempat mereka bekerja. Para chef itu membayar mahal untuk bisa mengolah rasa yang ada di diri mereka, bukan saja dari segi materi. Begitu banyak hal yang harus ditoleransikan untuk bisa mencapai tahap seperti mereka dan setelah mereka mampu, giliran mereka yang dibayar mahal untuk apa yang mereka miliki dan tak dimiliki orang lain.
Betapa dari seporsi tumis kangkung saya bisa belajar banyak hal. Banyak hal yang berawal dari rasa, banyak hal yang bergantung pada rasa, rasa yang menghasilkan rasa... rasa yang memang segalanya....

No comments:

Post a Comment